TUGAS PSIKOLOGI
ABNORMAL
GANGGUAN PSIKOSEKSUAL
OLEH:
AINURROFIQ ( 20131663098 )
NURNA NAJIHAH ( 20131663090
)
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURABAYA
2016
GANGGUAN PSIKOSEKSUAL
PENGERTIAN
PERILAKU SEKSUAL ABNORMAL
Prilaku seksual yang abnormal yaitu
jika menyimpang dari norma sosial,atau bersifat self defeating, merusak atau
mengganggu orang lain, menyebabkan distress personal, atau mempengaruhi
kemampuan seseorang untuk berfungsi secara optimal. Namun kita juga harus
menyadari bahwa prilaku seksual yang dianggap normal oleh suatu budaya dapat dianggap abnormal oleh budaya
lain.
I.
GANGGUAN IDENTITAS GENDER
A. PENGERTIAN
Idntitas gender (gender identity) adalah bagaimana seseorang
merasa bahwa dia adalah seorang pria atau wanita. Identitas gender secara
normal didasarkan pada anatomi gender.
Gangguan
identitas gender (gender identity disorder) yaitu terjadi konflik antara
anatomi gender seseorang dengan identitas gendernya.
B. PRESPEKTIF TEORITIS
Tak seorangpun mengetahui apa penyebabnya gangguan identitas
gender. (Money,1994) teoretikus psikodinamika menunjuk pada kedekatan pada
hubungan ibu-anak laki-laki yang sangat ekstrem, hubungan yang renggang antara
ibu dan ayah, dan ayah yang tidak ada atau jauh dari anaknya(stoller,1969).
Factor factor keluarga ini dapat menjadi penyebab munculnya identifikasi yang
kuat terhadap ibu dari para pria muda, mengakibatkan pembalikan dari identitas
dan peran gender yang diharapkan.
Anak perempuan yang memiliki ibu yang lemah dan tidak
berpengaruh serta ayah yang kuat dan maskulin dapat mengidenifikasi dirinya secara berlebihan
pada yang ayah dan mengembangkan perasaan psikologis bahwa dirinya adalah laki
laki kecil.
Teoretikus juga menekankan pada ketidakhadiran ayah dalam
kasus anak laki laki . pada ketidak adaan tokoh lakilaki yang kuat . pola
sosialisasi mungkin dapat mempengaruhi anak anak dari genderyang berbeda dan
yang secara kuat mendorong cara berpakaian dan pola bermain dari gender yang
berlawanan.
Meskipun demikian mayoritas orang dengan tipe riwayat
keluarga yang digambarkan dalam tori psikodinamika dan belajar ini tidak
mengalami gangguan identitas gender.
C. CIRI CRI KLINIS DARI GANGGUAN
IDENTITAS GENDER
a.
Identifikasi
yang kuat dan persisten terhadp gender lainnya.
- Ekspresi
yang berulang dari hasrat untuk menjadi anggota dari lainnya(atau ekspresi dari kepercayaan bahwa
dirinya adalah bagian dari gender lain)
- Prefensi
untuk mengenakan pakaian yang merupakan stereotipikal dari gender lain.
- Adanya
fantasi yang terus menerus mengenai menjadi anggota dari genderlain, atau
asumsi memainkan peran yang dilakukan oleh anggota genderlain dalam permainan
pura pura.
- Hasrat
untuk berpartisipasi dalam aktifitas waktu luang dan permainan yang merupakan
stereotip dari gender lain.
- Prefrensi
yang kuat untuk memiliki teman bermain dari gender lain (pada usia dimana
biasanya anak anak biasanya melihat teman
bermain dari gendernya sendiri).
b.
Perasaan
tidak nyaman yang kuat dan terus ada dengan anatomi gender sendiri atau dengan dengan
perilaku yang merupakan tipe dari peran gendernya.
c.
Tidak
ada kondisi interseks seperti anatomi seksual yang ambigu , yang mungkin
membangkitkan perasaan perasaan tersebut.
d.
Ciri
ciri tersebut menimbulkan distress yang serius atau hendanya pada area penting
yang terkait dengan pekerjaan,sosial atau fungsi lainnya.
II.
PARAPHILIA
A. PENGERTIAN
Yaitu pola yang tidak biasa atau
menyimpang dari pemuasan seksual, kecuali masokisme, gangguan ini sebagian
besar terjadi pada pria.
B. JENIS PARAFILIA
a.
Ekshibisionisme
: kepuasan seksual dengan mempertunjukkan alat genitalnya di depan umum
b.
Voyourisme
: kepuasan seksual dengan mengobservasi orang lain yang tidak dikenal sedang
telanjang, membuka pakaian, atau teransang secara seksua.
c.
Masokisme
seksual :kepuasan seksual dihubungkan dengan menerima penghinaan atau rasa
sakit.
d.
Fetishisme
: kepuasan seksual dihubungkan dengan tindakan menempelkan atau menggosok gosok
diri ke orang lain tanpa izin
e.
Sadisme
seksual : kepuasan seksual dihubungkan dengan menimbulkan penghinaan atau rasa
sakit pada orang lain
f.
Fetishisme
transvestik : kepuasan seksual dihubungkan dengan menggunakan pakaian dari
lawan jenis.
g.
Pedofilia
: ketertarikan sexsual pada anak-anak.
C. FAKTOR PENYEBAB
1.
Prespektif
teori :
·
stimulus
yang tidak bisa menjadi stimulus terkondisi untuk ransangan seksual akibat
pemasangan dengan aktifitas seksual dimasa lalu.
·
Stimulus
yang tidak bisa dapat menjadi erotis dengan cara melebitkannya dalam fantasi
erotis dan mastrubasi.
2.
Prespektif
psikodinamika : kecemasan kastrasi yang tidak terselesaikan dari masa kanak
kanak yang menyebabkan ransangan seksual dipindahkan pada obyek atau aktifitas
yang lebih aman.
3.
Presoektif
multifactor : penganiayaan seksual atau fisik pada masa kanak kanak dapat
merusak pola ransangan seksual yang normal.
D. PENANGANAN
·
Penanganan
biomedik : antidepresan untuk membantu individu mengontrol dorongan seksual
yang menyimpang atau mengurangi dorongan seksual.
·
Terapi
kognitif behavioral :
o
termasuk
aversive conditioning (memasangkan stimulus menyimpang dengan stimulus aversif)
o
sentisisasi
tertutup (memasangkan prilaku yang tidak diharapkan dengan stimulus aversif
dalam imajenasi)
o
metode
non aversif yang membantu individu mencapai prilaku yang lebih adaptif.
o
III.
DISFUNGSI SEKSUAL
A A.Pengertian
Yaitu masalah dalam minat, ransangan,
atau respon seksual yang dapat terjadi sepanjang kehidupan seseorang (disfungsi
sepanjang hidup) atau muncul beberapa titik kehidupan setelah periode funsi
yang normal (fungsi yang diperoleh)
B. Siklus Ransangan Seksual
Disfungsi seksual mempengaruhi
pemulaan atau penyelesaian siklus respon seksual.
William Masters dan Virginia Jhonson dan
beberapa terapis seks Helen singer Kaplan, DSM menjabarkan siklus respon
seksual dalam empat fase yaitu:
1. Fase keinginan
Fase
ini melibatkan fantasi seksual dan hasrat untuk melakukan aktivitas seksual,
timbulnya fantasi dan hasrat seksual adalah normal ; pertanyaannya adalah “
seberapa besar ( seberapa kecil minat seksual dikatakan normal?”
2. Fase perangsangan
Fase
ini melibatkan perubahan fisik dan perasaan nikmat yang muncul saat proses
ransangan seksual. Dalam merespon stimulus seksual, detak
jantung,pernafasan,dan tekanan darah meningkat. Perangsangan seksual melibatkan
dua reflek seksual yang penting yaitu ereksi pada pria dan lubrikasi vagina
pada wanita.
o
Pada
pria ereksi terjadi ketika pembulu darah dalam jaringan yang ada dalam penis
membesar untuk memungkinkan aliran darah yang meningkat memperbesar jaringan.
o
Pada
wanita payudara akan membesar, putting susu akan berereksi, darah memenuhi
genital menyebabkan klitoris membesar. Vagina melebar dan membesar, dan
lubrikasi muncul karena pembesaran pembulu darah di vagina mendorong cairan
keluar melalui membrane kapiler
3. Fase orgasme
Baik pada pria atau wanita tegangan seksual mencapai pada
puncaknya dan dilepaskan melalui kontraksi ritmik invalunter dari otot pelvis
disertai dengan perasaan nikmat. Orgasme seperti ereksi dan lubrikasi adalah
suatu reflek.
-
Pada
pria kontraksi dari otot pelvis mendorong cairan mani untuk keluar melalui
ujung penis pada saat ejakulasi.
-
Pada
wanita otot pelvis yang mengelilingi lapisan luar ketiga dari vagina
berkontraksi secara reflek,
-
Pada
pria dan wanita kontraksi pertama adalah yang terkuat dan berjarak, 0,8 detik
interval ( lima kontraksi dalam 4 detik). Kontraksi berikutnya lebih lama dan
terjadi dalam rentang yang lebih lama.
Orang tidak bisa memaksakan orgasme,
demikian juga mereka tidak dapat memaksa reflek seksual lainnya, seperti ereksi
dan lubrikasi vagina. Kita hanya dapat mengatur tahap respon seksual dan
membiarkannya terjadi secara alamiah. Mengatur tahap orgasme melibatkan
menerima kenikmatan seksual, biasanya jika
memaksa terjadinya orgasme malah justru mencegah terjadinya orgasme itu
sendiri.
4. Fase resolusi
Yaitu fase terjadinya relaksasi dan perasaan nyaman. Pada
tahap ini pria secara fisiologis tidak
mampu mencapai ereksi dan orgasme untuk suatu periode waktu tertentu. Namun
wanita mungkin mampu untuk mempertahankan ransangan seksual pada tingkat yang
tinggi jika stimulus dilanjutkan, dan mengalami orgasme ganda dalam suatu
rangkaian yang cepat. Dalam sek, sama seperti area kehidupan yang lainnya,
segala keharusan seringkali merupakan tuntutan yang dipaksakan yang menimbulkan
perasaan cemas dan tidak mampu.
C. JENIS-JENIS
DISFUNGSI SEKSUAL
DSM-IV mengelompokkan disfungsi
seksual dalam kategori berikut:
1. Gangguan hasrat seksual
2. Gangguan ransangan seksual
3. Gangguan orgasme
4. Gangguan nyeri rasa sakit seksual
1. Gangguan hasrat seksual
-
Gangguan
hasrat seksual hipoaktif : kurangnya minat atau hasrat seksual
-
Gangguan
aversi seksual : keengganan untuk dan penghindaran terhadap kontak genital
seksual
2. Gangguan ransangan seksual
-
Gangguan
rangsangan seksual wanita : kesulitan menjadi teransang atau mempertahankan
ransangan seksual atau kegairahan selama aktifitas seksual
-
Gangguan
ransangan seksual pria : kesulitan untuk mencapai atau mempertahankan ereksi
selama aktifitas seksual
3. Gangguan orgasme
-
Gangguan
orgasme wanita : kesulitan mencapai orgasme
-
Gangguan
orgasme pria : kesulitan mencapai orgasme
4. Gangguan nyeri rasa sakit seksual
-
Dispareunia
: rasa sakit saat setelah berhubungan seksual yang tidak bisa dijelaskan secara
medis
-
Vaginismus
: kontraksi tak sengaja/involunter dari otot vagina, sehingga penetrasi penis
menjadi menyakitkan atau tidak mungkin di lakukan.
D.
Faktor
penyebab
·
Factor
biologis : penyakit atau kurangnya produksi hormone sek dapat mengganggu
hasrat. Ransangan, atau respon seksual
·
Factor
psikodinamika : teoritikus psikodinamika memperkirakan bahwa konflik tak sadar
yang berasal dari masa kanak kanak dapat menjadi akar permasalahan dalam
merespon ransangan seksual
·
Factor
psikososial :
-
Kecemasan
akan performa muncul dari kepedulian yang berlebihan terhadap kemampuan
seseorang untuk memberikan performa seksual yang baik.
-
Riwayat
trauma atau penganiayaan seksual
-
Kurangnya
kesempatan untuk mendapatkan keterampilan seksual.
-
Pemaparan
terhadap sikap dan kepercayaan negatife tentang seksualitas terutama seksual
wanita.
·
Factor
kognitif :
-
Pengadopsian
kepercayaan irasional, seperti kepercayaan bahwa seseorang harus kompenten
secara sempurna setiap saat, dapat menyebabkan kecemasan dan performa.
-
Pada
ejakulasi dini, gagal untuk mengukur peningkatan level tegangan seksual yang
menyebabkan ejakulasi
-
Pengaru
kognisi, seperti ketakutan untuk gagal, dapat menghambat respon seksual yang
abnormal.
·
Factor
hubungan : masalah hubungan dan kegagalan untuk mengomunikasikan kebutuhan
seksual.
E.
Pendekatan
Penanganan
Kebanyakan kasus disfungsi seksual
dapat ditangani dengan sukses
·
Penanganan
biomedis : terutama melibatkan penggunaan obat obatan untuk menangani disfungsi
ereksi atau ejakulasi dini
·
Terapi
kognitif behavioral (CBT) : terapi seks, tehnik kognitif-behavioral singkat
yang membantu individu dan pasangan untuk mengembangkan hubungan seksual yang
lebih memuaskan dan mengurangi kecemasan akan performa.
sumber ; psikologi abnormal/J S NEVID, S A RATHUS, B GREENE/2013//


Tidak ada komentar:
Posting Komentar