Jumat, 13 Mei 2016

GANGGUAN PSIKOSEKSUAL

TUGAS PSIKOLOGI ABNORMAL
GANGGUAN PSIKOSEKSUAL












OLEH:
AINURROFIQ  ( 20131663098 )
NURNA NAJIHAH  (  20131663090 )

FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA
2016






GANGGUAN PSIKOSEKSUAL

PENGERTIAN PERILAKU SEKSUAL ABNORMAL

Prilaku seksual yang abnormal yaitu jika menyimpang dari norma sosial,atau bersifat self defeating, merusak atau mengganggu orang lain, menyebabkan distress personal, atau mempengaruhi kemampuan seseorang untuk berfungsi secara optimal. Namun kita juga harus menyadari bahwa prilaku seksual yang dianggap normal oleh suatu  budaya dapat dianggap abnormal oleh budaya lain.

                         I.            GANGGUAN IDENTITAS GENDER

A.    PENGERTIAN
Idntitas gender (gender identity) adalah bagaimana seseorang merasa bahwa dia adalah seorang pria atau wanita. Identitas gender secara normal didasarkan pada anatomi gender.
Gangguan identitas gender (gender identity disorder) yaitu terjadi konflik antara anatomi gender seseorang dengan identitas gendernya.
B.    PRESPEKTIF TEORITIS
Tak seorangpun mengetahui apa penyebabnya gangguan identitas gender. (Money,1994) teoretikus psikodinamika menunjuk pada kedekatan pada hubungan ibu-anak laki-laki yang sangat ekstrem, hubungan yang renggang antara ibu dan ayah, dan ayah yang tidak ada atau jauh dari anaknya(stoller,1969). Factor factor keluarga ini dapat menjadi penyebab munculnya identifikasi yang kuat terhadap ibu dari para pria muda, mengakibatkan pembalikan dari identitas dan peran gender yang diharapkan.
Anak perempuan yang memiliki ibu yang lemah dan tidak berpengaruh serta ayah yang kuat dan maskulin dapat  mengidenifikasi dirinya secara berlebihan pada yang ayah dan mengembangkan perasaan psikologis bahwa dirinya adalah laki laki kecil.

Teoretikus juga menekankan pada ketidakhadiran ayah dalam kasus anak laki laki . pada ketidak adaan tokoh lakilaki yang kuat . pola sosialisasi mungkin dapat mempengaruhi anak anak dari genderyang berbeda dan yang secara kuat mendorong cara berpakaian dan pola bermain dari gender yang berlawanan.

Meskipun demikian mayoritas orang dengan tipe riwayat keluarga yang digambarkan dalam tori psikodinamika dan belajar ini tidak mengalami gangguan identitas gender.

C.    CIRI CRI KLINIS DARI GANGGUAN IDENTITAS GENDER

a.      Identifikasi yang kuat dan persisten terhadp gender lainnya.
-  Ekspresi yang berulang dari hasrat untuk menjadi anggota dari  lainnya(atau ekspresi dari kepercayaan bahwa dirinya adalah bagian dari gender lain)
-    Prefensi untuk mengenakan pakaian yang merupakan stereotipikal dari gender lain.
-   Adanya fantasi yang terus menerus mengenai menjadi anggota dari genderlain, atau asumsi memainkan peran yang dilakukan oleh anggota genderlain dalam permainan pura pura.
-  Hasrat untuk berpartisipasi dalam aktifitas waktu luang dan permainan yang merupakan stereotip dari gender lain.
 Prefrensi yang kuat untuk memiliki teman bermain dari gender lain (pada usia dimana biasanya anak anak biasanya melihat teman  bermain dari gendernya sendiri).
b.      Perasaan tidak nyaman yang kuat dan terus ada dengan anatomi gender sendiri atau dengan dengan perilaku yang merupakan tipe dari peran gendernya.
c.       Tidak ada kondisi interseks seperti anatomi seksual yang ambigu , yang mungkin membangkitkan perasaan perasaan tersebut.
d.      Ciri ciri tersebut menimbulkan distress yang serius atau hendanya pada area penting yang terkait dengan pekerjaan,sosial atau fungsi lainnya.

   II.            PARAPHILIA

A.    PENGERTIAN

Yaitu pola yang tidak biasa atau menyimpang dari pemuasan seksual, kecuali masokisme, gangguan ini sebagian besar terjadi pada pria.

B.    JENIS PARAFILIA

a.      Ekshibisionisme : kepuasan seksual dengan mempertunjukkan alat genitalnya di depan umum
b.      Voyourisme : kepuasan seksual dengan mengobservasi orang lain yang tidak dikenal sedang telanjang, membuka pakaian, atau teransang secara seksua.
c.       Masokisme seksual :kepuasan seksual dihubungkan dengan menerima penghinaan atau rasa sakit.
d.      Fetishisme : kepuasan seksual dihubungkan dengan tindakan menempelkan atau menggosok gosok diri ke orang lain tanpa izin
e.      Sadisme seksual : kepuasan seksual dihubungkan dengan menimbulkan penghinaan atau rasa sakit pada orang lain
f.        Fetishisme transvestik : kepuasan seksual dihubungkan dengan menggunakan pakaian dari lawan jenis.
g.      Pedofilia : ketertarikan sexsual pada anak-anak.

C.    FAKTOR PENYEBAB

1.      Prespektif teori :
·         stimulus yang tidak bisa menjadi stimulus terkondisi untuk ransangan seksual akibat pemasangan dengan aktifitas seksual dimasa lalu.
·         Stimulus yang tidak bisa dapat menjadi erotis dengan cara melebitkannya dalam fantasi erotis dan mastrubasi.
2.      Prespektif psikodinamika : kecemasan kastrasi yang tidak terselesaikan dari masa kanak kanak yang menyebabkan ransangan seksual dipindahkan pada obyek atau aktifitas yang lebih aman.
3.      Presoektif multifactor : penganiayaan seksual atau fisik pada masa kanak kanak dapat merusak pola ransangan seksual yang normal.

D.   PENANGANAN

·         Penanganan biomedik : antidepresan untuk membantu individu mengontrol dorongan seksual yang menyimpang atau mengurangi dorongan seksual.
·         Terapi kognitif behavioral :
o   termasuk aversive conditioning (memasangkan stimulus menyimpang dengan stimulus aversif)
o   sentisisasi tertutup (memasangkan prilaku yang tidak diharapkan dengan stimulus aversif dalam imajenasi)
o   metode non aversif yang membantu individu mencapai prilaku yang lebih adaptif.
o    
                                   III.            DISFUNGSI SEKSUAL      

A      A.Pengertian

Yaitu masalah dalam minat, ransangan, atau respon seksual yang dapat terjadi sepanjang kehidupan seseorang (disfungsi sepanjang hidup) atau muncul beberapa titik kehidupan setelah periode funsi yang normal (fungsi yang diperoleh)

B. Siklus Ransangan Seksual

Disfungsi seksual mempengaruhi pemulaan atau penyelesaian siklus respon seksual.
William Masters dan Virginia Jhonson dan beberapa terapis seks Helen singer Kaplan, DSM menjabarkan siklus respon seksual dalam empat fase yaitu:
1.      Fase keinginan
Fase ini melibatkan fantasi seksual dan hasrat untuk melakukan aktivitas seksual, timbulnya fantasi dan hasrat seksual adalah normal ; pertanyaannya adalah “ seberapa besar ( seberapa kecil minat seksual dikatakan normal?”
2.      Fase perangsangan
Fase ini melibatkan perubahan fisik dan perasaan nikmat yang muncul saat proses ransangan seksual. Dalam merespon stimulus seksual, detak jantung,pernafasan,dan tekanan darah meningkat. Perangsangan seksual melibatkan dua reflek seksual yang penting yaitu ereksi pada pria dan lubrikasi vagina pada wanita.
o   Pada pria ereksi terjadi ketika pembulu darah dalam jaringan yang ada dalam penis membesar untuk memungkinkan aliran darah yang meningkat memperbesar jaringan.
o   Pada wanita payudara akan membesar, putting susu akan berereksi, darah memenuhi genital menyebabkan klitoris membesar. Vagina melebar dan membesar, dan lubrikasi muncul karena pembesaran pembulu darah di vagina mendorong cairan keluar melalui membrane kapiler
3.      Fase orgasme
Baik pada pria atau wanita tegangan seksual mencapai pada puncaknya dan dilepaskan melalui kontraksi ritmik invalunter dari otot pelvis disertai dengan perasaan nikmat. Orgasme seperti ereksi dan lubrikasi adalah suatu reflek.
-          Pada pria kontraksi dari otot pelvis mendorong cairan mani untuk keluar melalui ujung penis pada saat ejakulasi.
-          Pada wanita otot pelvis yang mengelilingi lapisan luar ketiga dari vagina berkontraksi secara reflek,
-          Pada pria dan wanita kontraksi pertama adalah yang terkuat dan berjarak, 0,8 detik interval ( lima kontraksi dalam 4 detik). Kontraksi berikutnya lebih lama dan terjadi dalam rentang yang lebih lama.
Orang tidak bisa memaksakan orgasme, demikian juga mereka tidak dapat memaksa reflek seksual lainnya, seperti ereksi dan lubrikasi vagina. Kita hanya dapat mengatur tahap respon seksual dan membiarkannya terjadi secara alamiah. Mengatur tahap orgasme melibatkan menerima kenikmatan seksual, biasanya jika  memaksa terjadinya orgasme malah justru mencegah terjadinya orgasme itu sendiri.


4.      Fase resolusi
Yaitu fase terjadinya relaksasi dan perasaan nyaman. Pada tahap ini pria secara fisiologis  tidak mampu mencapai ereksi dan orgasme untuk suatu periode waktu tertentu. Namun wanita mungkin mampu untuk mempertahankan ransangan seksual pada tingkat yang tinggi jika stimulus dilanjutkan, dan mengalami orgasme ganda dalam suatu rangkaian yang cepat. Dalam sek, sama seperti area kehidupan yang lainnya, segala keharusan seringkali merupakan tuntutan yang dipaksakan yang menimbulkan perasaan cemas dan tidak mampu.

C.     JENIS-JENIS DISFUNGSI SEKSUAL

DSM-IV mengelompokkan disfungsi seksual dalam kategori berikut:
1.      Gangguan hasrat seksual
2.      Gangguan ransangan seksual
3.      Gangguan orgasme
4.      Gangguan nyeri rasa sakit seksual

1.      Gangguan hasrat seksual
-          Gangguan hasrat seksual hipoaktif : kurangnya minat atau hasrat seksual
-          Gangguan aversi seksual : keengganan untuk dan penghindaran terhadap kontak genital seksual
2.      Gangguan ransangan seksual
-          Gangguan rangsangan seksual wanita : kesulitan menjadi teransang atau mempertahankan ransangan seksual atau kegairahan selama aktifitas seksual
-          Gangguan ransangan seksual pria : kesulitan untuk mencapai atau mempertahankan ereksi selama aktifitas seksual
3.      Gangguan orgasme
-          Gangguan orgasme wanita : kesulitan mencapai orgasme
-          Gangguan orgasme pria : kesulitan mencapai orgasme
4.      Gangguan nyeri rasa sakit seksual
-          Dispareunia : rasa sakit saat setelah berhubungan seksual yang tidak bisa dijelaskan secara medis
-          Vaginismus : kontraksi tak sengaja/involunter dari otot vagina, sehingga penetrasi penis menjadi menyakitkan atau tidak mungkin di lakukan.


D.     Faktor penyebab

·         Factor biologis : penyakit atau kurangnya produksi hormone sek dapat mengganggu hasrat. Ransangan, atau respon seksual
·         Factor psikodinamika : teoritikus psikodinamika memperkirakan bahwa konflik tak sadar yang berasal dari masa kanak kanak dapat menjadi akar permasalahan dalam merespon ransangan seksual
·         Factor psikososial :
-          Kecemasan akan performa muncul dari kepedulian yang berlebihan terhadap kemampuan seseorang untuk memberikan performa seksual yang baik.
-          Riwayat trauma atau penganiayaan seksual
-          Kurangnya kesempatan untuk mendapatkan keterampilan seksual.
-          Pemaparan terhadap sikap dan kepercayaan negatife tentang seksualitas terutama seksual wanita.
·         Factor kognitif :
-          Pengadopsian kepercayaan irasional, seperti kepercayaan bahwa seseorang harus kompenten secara sempurna setiap saat, dapat menyebabkan kecemasan dan performa.
-          Pada ejakulasi dini, gagal untuk mengukur peningkatan level tegangan seksual yang menyebabkan ejakulasi
-          Pengaru kognisi, seperti ketakutan untuk gagal, dapat menghambat respon seksual yang abnormal.
·         Factor hubungan : masalah hubungan dan kegagalan untuk mengomunikasikan kebutuhan seksual.

E.     Pendekatan Penanganan
Kebanyakan kasus disfungsi seksual dapat ditangani dengan sukses
·         Penanganan biomedis : terutama melibatkan penggunaan obat obatan untuk menangani disfungsi ereksi atau ejakulasi dini

·         Terapi kognitif behavioral (CBT) : terapi seks, tehnik kognitif-behavioral singkat yang membantu individu dan pasangan untuk mengembangkan hubungan seksual yang lebih memuaskan dan mengurangi kecemasan akan performa.





sumber ; psikologi abnormal/J S NEVID, S A RATHUS, B GREENE/2013//

Tidak ada komentar:

Posting Komentar